advertorial

BANDARA KULONPROGO Mediasi Pertama Tak Membuahkan Hasil

Sidang pertama gugatan atas lahan PAG digelar di Pengadilan Negeri Wates pada Senin (9/1/2017).(Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)Sidang pertama gugatan atas lahan PAG digelar di Pengadilan Negeri Wates pada Senin (9/1/2017).(Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Bandara Kulonprogo untuk mediasi belum seperti yang diharapkan

Semarangpos.com, KULONPROGO — Sidang terkait sengketa lahan Paku Alam Ground (PAG) terdampak bandara yang melibatkan Puro Pakualaman dan keturunan Paku Buwono X dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Wates pada Senin (9/1/2017). Dalam agenda mediasi tersebut pihak penggugat belum bisa menghadirkan 8 penggugat.

Gugatan tersebut diajukan oleh 8 penggugat yang menyatakan diri sebagai ahli waris Hamengku Buwono VII dan Paku Buwono X dengan tergugat KGPAA Paku Alam X dan Direksi PT Angkasa Pura 1. Sidang dipimpin oleh Mateus Sukesno Aji sebagai hakim ketua didampingi oleh Edy Sameaputty dan Yudith Wirawan.

Proses mediasi pertama ini belum membuahkan hasil karena seluruh penggugat belum bisa dihadirkan. Meski salah satu penggugat hadir namun hal tersebut tidak berlaku karena tidak dilengkapi dengan surat kuasa dari 7 penggugat lainnya. Dengan demikian, sidang akan dilanjutkan pada 18 Januari mendatang dengan agenda serupa.

“Harapan kami karena ada hubungan silsilah keluarga kerajaan tidak usah terlalu berambisi ingin menguasai keseluruhan,”kata Prihananto, kuasa hukum penggugat usai sidang. Menurutnya, pihaknya sebenarnya mengedepankan kekeluargaan sehingga tetap membuka penyelesai secara kekeluargaan.

Meski demikian, ia menegaskan jika gugatan tersebut diajukan karena 8 orang yang diwakilinya memiliki bukti sertfikat terhadap lahan PAG terdampak bandara itu. Dikatakan jika Hamengku Buwono VII menghadiahkan tanah seluas 1.200 hektar kepada putrinya, Mursidarinah, karena berhasil memiliki suami seorang raja yakni Paku Buwono X yang berasal dari Kasunanan Surakarta.

 

Iklan Baris

    No items.