advertorial

Berkat "Sunya", Eko Pece Meraih Penghargaan Aktor Pendukung Terbaik

Eko Supriyanto (Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos)Eko Supriyanto (Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos)

penari Eko Pece meraih penghargaan atas perannya dalam Sunya.

Semarangpos.com, SOLO — Penari sekaligus koreografer Eko Supriyanto atau dikenal Eko Pece, 46, tak henti-hentinya berkarya. Sukses dengan berbagai tari dan pertunjukan seni hingga luar negeri, mantan penari latar Madonna ini juga piawai dalam seni peran.

Acting-nya sebagai seorang penari dalam film bergenre drama misteri, Sunya, mendapat penghargaan dari Tempo Majalah sebagai Best Supporting Actor 2016. Pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini mengungguli aktor lain seperti Erlando Saputra, Satria Qolbun Salim, Sri Purwani, dan Soetomo Adi.

Hanya Eko yang mendapat penghargaan dari majalah investigasi nasional tersebut. Selain Best Supporting Actor untuk Eko Pece, film tentang mitos Jawa garapan Hari Suhariyadi meraih beberapa penghargaan bergengsi seperti Best Original Movie Concept Piala Maya 2016, dan One Of The Best Movie Of The Year dari Movefreak.

Film tersebut juga diputar di beberapa festival film Hollywood. Sebelumnya film Sunya sempat diputar di layar lebar pada 6 Oktober lalu. “Film ini melebihi ekspektasi saya,” kata Eko saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Eko mengatakan empat tahun terakhir setelah produksi sempat dibuat deg-degan dengan Sunya. Namun ketika melihat film secara utuh pada penayangan perdana Oktober 2016 di Jakarta, ia terkejut dan merasa puas. Menurut dia, secara keseluruhan garapan abstrak non-naratif tersebut menurutnya memberikan ruang yang luas terhadap kejawen dan budaya Jawa.

Lebih lanjut, Eko menegaskan keberhasilannya sebagai Best Supporting Actor versi Tempo tak lepas dari totalitas sang sutradara
juga seluruh kru dan pemain film.

Ini bukan kali pertama Eko terlibat dalam dunia seni peran. Sebelumnya, peraih Cultural Award di Jerman ini juga pernah menjadi
pemain pendukung dalam opera Jawa di Kisah Tiga Titik dan Negeri Tanpa Telinga. Hingga saat ini sejumlah sutradara meminangnya untuk mendukung film bergenre serupa namun tawaran tersebut masih ia pertimbangkan.

Suami dari Astri Kusumawardhani ini sibuk dengan beberapa jadwal tour karyanya berjudul Cry Jailolo, Balabala, dan karya tunggal SALT hingga 2018 mendatang.

Sementara itu, sang sutradara Hari Suhariyadi tersanjung atas apresiasi yang mereka terima. Terhitung baru tiga bulan sejak
pemutaran di bioskop, film ini sudah menerima beberapa penghargaan.

Film yang juga melibatkan sejumlah dua seniman Solo dan beberapa penulis ternama seperti Eka Kurniawan ini akan diputar secara berkala di berbagai komunitas hingga Maret mendatang.

Digarap Rumah Produksi Film Sinema jiwa, proses produksi Sunya menghabiskan waktu hampir lima tahun sejak 2011. Pengambilan gambar dilakukan di Desa Ndilem, Kepanjen, Malang, dan Magelang. Sunya yang sarat dengan mitos Jawa ini menceritakan kisah seorang anak dari perdesaan bernama Bejo.

Semenjak kematian sang ibu, ia sering mengalami kejadian aneh dan misterius. Hal itu terjadi hingga ia dewasa dan menikah. Suatu saat nenek Bejo mengalami penyakit aneh yang hanya bisa disembuhkan dengan proses kejawen. Berdasarkan video trailer, film ini menggunakan setting perdesaan dan memasukkan beberapa kesenian Jawa.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/semarang/elements/themes/madiun/widget-cespleng-600.php on line 32