advertorial

KAMPUS DI SEMARANG Undip Kembangkan Plastik Tongkol Jagung

Kampus Undip di kawasan Tembalang, Semarang. (JIBI/Semarangpos.com/Dok.)Kampus Undip di kawasan Tembalang, Semarang. (JIBI/Semarangpos.com/Dok.)

Kampus di Semarang, Universitas Diponegoro (Undip), memfasilitasi mahasiswanya mengembangkan plastik ramah lingkungan.

Semarangpos.com, SEMARANG — Lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengembangkan plastik ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah tongkol jagung yang dikombinasikan dengan sukun. “Kami mencoba untuk membuat plastik yang mampu terurai secara alami atau biodegradable dengan kualitas yang tidak kalah dengan plastik biasa,” kata Ketua Tim Penelitian, Novita, di Kota Semarang, Jumat (14/7/2017).

Ia mengatakan bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat plastik biodegradabel adalah senyawa-senyawa yang terdapat pada tanaman seperti pati, selulosa, sedangkan pada hewan seperti, kitin, kasein, dan kitosan. Dalam penelitian ini, kata Novita, menggunakan pati yang diambil dari sukun dan senyawa Carboxymethyl cellulose (CMC) dari tongkol jagung yang memungkinkan untuk digunakan sebagai plastik biodegradable.

“Tongkol jagung selama ini belum banyak dimanfaatkan dan hanya dibuang begitu saja. Padahal, dalam tongkol jagung terdapat CMC sehingga berpotensi untuk dibuat bahan aditif plastik,” katanya.

Dalam pengerjaannya Novita mengaku dibantu oleh empat anggota lainnya yaitu Retno Wulansari, Putri Ade Riswanti, Ridla Setya Nur Armina, dan Rio Agung Prabowo, dibimbing oleh salah satu dosen, Aris Triwiyatno. “Sukun dan tongkol jagung merupakan bahan yang masih belum banyak dimanfaatkan dan sering diabaikan sehingga sering dibiarkan membusuk begitu saja,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sukun mudah didapatkan dari sekitar kampus dan tongkol jagung dari sejumlah tempat penjual olahan jagung seperti jagung bakar dan jagung serut. Tepung yang didapat dari buah sukun, kata dia, terlebih dahulu diambil patinya dengan cara diendapkan kemudian hasil endapan tersebut dikeringkan dan diayak.

Sedangkan sintesis dan isolasi dilakukan pada tongkol jagung sehingga diperoleh CMC. Kemudian, lanjut dia, pati sukun dan CMC dipanaskan dan dilakukan pengadukan dengan hot stirrer sehingga larutan menjadi homogen dengan diberi tambahan gliserol. Setelah itu, dioven sehingga diperoleh plastik yang diinginkan.

Ia mengatakan hasil penelitian menunjukkan limbah tongkol jagung dan buah sukun berpotensi untuk digunakan dalam pembuatan plastik. “Ke depannya masih perlu dilakukan serangkaian penelitian lanjutan karena saat ini masih didapatkan plastik yang tidak terlalu bersih pada saat melakukan proses bleaching pada pati dari sukun yang digunakan,” jelasnya.

Melalui penelitian ini Novita berharap hasil penelitiannya bersama mahasiswa lain kampus di Semarang, Universitas Diponegoro (Undip) itu mampu menghasilkan bioplastik berbahan pati sukun dan CMC dari tongkol jagung yang kuat dan mudah terdekomposisi sehingga dapat dikembangkan di Indonesia sebagai substitusi plastik konvensional.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Iklan Baris

    No items.