advertorial

GAGASAN Apa Kabar Solo Kota Kreatif?

Fajar S. Pramono (Istimewa)Fajar S. Pramono (Istimewa)

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (10/8/2017). Esai ini karya Fajar S. Pramono, alumnus Universitas Sebelas Maret yang meminati tema-tema sosial dan ekonomi. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com.

Semarangpos.com, SOLO–Pada 2013 Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif waktu itu Mari Elka Pangestu mengatakan tengah berjuang untuk bisa memasukkan empat kota di Indonesia ke golongan kota kreatif di dunia versi United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Empat kota yang diharapkan bisa menjadi ikon ekonomi kreatif itu adalah Jogja, Solo, Bandung, dan Pekalongan. Apa kabar kota-kota itu hari ini? Perjuangan Mari Elka Pangestu dan penerusnya tak sia-sia. Dua dari empat kota tersebut kini telah resmi masuk dalam daftar kota-kota kreatif di dunia.

Kota Pekalongan menjadi kota pertama di Indonesia yang diakui secara resmi sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) kategori Crafts and Folk Art per 1 Desember 2014. Tahun berikutnya giliran Kota Bandung yang tercatat sebagai bagian dari jaringan kota kreatif versi UNESCO di kategori Design.

Apa kabar Kota Solo? Kapan Solo bisa menyusul Pekalongan dan Bandung masuk ke daftar  kota kreatif versiu UNESCO? Tahun ini? Tahun depan? Untuk bisa menjawab pertanyaan itu mari kita bersama-sama menengok kembali kriteria sebuah kota bisa dinobatkan sebagai kota kreatif versi UNESCO.

Laman kotakreatif-id.blogspot.co.id menjelaskan ada 18 indikator kota kreatif versi UNESCO. Pertama, peran dan dasar-dasar bidang kreatif dalam sejarah kota. Kedua, pentingnya ekonomi serta dinamika sektor budaya dan bidang kreatif yang menjadi perhatian, berikut kontribusinya bagi pembangunan ekonomi dan lapangan kerja di kota itu.

Ketiga, adanya pameran, konferensi, konvensi, dan peristiwa nasional dan atau internasional lainnya yang diselenggarakan oleh kota selama lima tahun terakhir untuk para profesional di bidang kreatif. Keempat, keberadaan festival, konvensi, dan acara skala besar lainnya di bidang kreatif yang diselenggarakan dalam lima tahun terakhir.

Kelima, kejelasan mekanisme, kursus, dan program bidang kreatif untuk mempromosikan pendidikan kreativitas dan seni bagi kaum muda. Keenam, eksistensi pendidikan tinggi, sekolah kejuruan, sekolah musik dan drama, residensi, dan pembentukan pendidikan tinggi lainnya di bidang kreatif.

Ketujuh, berdirinya pusat penelitian dan program di bidang kreatif. Kedelapan, adanya ruang dan pusat kreasi yang diakui, produksi, dan penyebaran kegiatan barang dan jasa di bidang kreatif. Kesembilan, tersedianya fasilitas utama dan ruang-ruang budaya yang didedikasikan untuk berlatih, promosi, dan sosialisasi di bidang kreatif.

Selanjutnya adalah: Jumlah program atau proyek yang dikembangkan…

Iklan Baris

    No items.