Tutup Iklan

AJI Semarang Gelar Konferta, Ini Agenda yang Dibahas

Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Semarang menggelar Konfrensi Kota (Konferta) IX di Kota Semarang, Minggu (28/3/2021).

AJI Semarang Gelar Konferta, Ini Agenda yang Dibahas Konferta IX AJI Kota Semarang. (Istimewa)

Semarangpos.com, SEMARANG — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang akan menggelar Konferensi Kota (Konferta) IX, Minggu (28/3/2021). Konferta yang mengagendakan pemilihan pengurus untuk masa bakti 2021-2024 ini akan digelar di Kantor Sekretariat AJI Semarang, Jalan Nakula, Kota Semarang.

Ketua AJI Kota Semarang, Edi Faisol, mengatakan konferta sebenarnya sudah diagendakan sejak beberapa waktu lalu. Namun, karena berbagai alasan seperti pandemi Covid-19, konferta akhirnya diundur.

“Ada sejumlah agenda yang dibahas dalam konferta nanti. Selain membahas masalah organisasi, tentu juga memilih pasangan ketua dan sekretaris,” ujar Edi dalam keterangan resmi yang diterima Semarangpos.com, Sabtu (27/3/2021).

Baca juga: AJI Semarang Soroti Pemberian Sembako ke Wartawan di Masa Pandemi Covid-19

Edi mengatakan Konferta IX AJI Semarang mengusung tema “Menjaga Independensi di Tengah Oligarki”.

Tema itu diusung untuk menggambarkan situasi jurnalis saat ini yang menghadapi tantangan pada masa pandemi, tapi juga intervensi kebebasan pers.

Hal itu dibuktikan dengan sejumlah tantangan jurnalis  yang sebelumnya dilarang meliput dan kecenderungan inetervensi kekuasaan di balik bilik redaksi.

“Ini yang selama ini mengganggu. Tak hanya hambatan secara fisik, tapi juga oligarki antara pemilik media dengan birokrasi,” kata Edi menambahkan.

Di sisi lain, Edi menyebut tantangan oligarki juga menimpa kebebasan berpendapat di dunia kampus yang selama ini menjadi basis kekuatan AJI Semarang dalam berkolaborasi dengan mahasiswa khususnya organisasi pers mahasiswa.

Baca juga: Dewan Pers Minta Semua Pihak Tolak Permintaan THR dari Media, Organisasi Pers, & Wartawan

Sejumlah kasus pembungkaman gerakan mahasiswa dan kritik lewat pemberitaan kampus menjadi perhatian. Di sisi lain, AJI juga merasakan oligarki kekuasaan berdampak pada kesejahteraan pekerja media yang selalu ditutupi.

“Buktinya dinas tenaga kerja emoh menyebut jumlah perusahaan media yang melanggar pengupahan. Itu karena takut dan ada hubungan antarbos media dengan birokrasi,” imbuh Edi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.

Komentar Ditutup.