BI: Pertumbuhan Kredit di Jateng Timpang

Kinerja penyaluran kredit 62 perbankan di Jawa Tengah per Oktober 2019 yang bertumbuh 5% sepanjang Oktober lalu ternyata timpang.

BI: Pertumbuhan Kredit di Jateng Timpang Logo Bank Indonesia terlihat di Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. (Bisnis-Reuters-Willy Kurniawan)

Semarangpos.com, SEMARANG — Ketimpangan dalam kinerja penyaluran kredit 62 perbankan di Jawa Tengah per Oktober 2019 yang bertumbuh 5% menjadi sorotan Bank Indonesia. Meskipun secara general tumbuh, namun 31 perbankan mencatatkan penurunan kinerja.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Soekowardojo menyampaikan secara umum kinerja 62  institusi perbankan di Jawa Tengah menunjukkan ekspansi dalam periode Januari-Oktober 2019. Pasalnya, penyaluran kredit mereka bertumbuh 5%, walaupun sedikit di bawah rata-rata nasional 7%.

Namun demikian, hal yang mengkhawatirkan adalah setengah dari jumlah perbankan atau 31 perusahaan. Institusi perbankan itu mencatatkan kinerja penyaluran kredit yang menurun.

Artinya, pertumbuhan kredit perbankan Jateng tidak dirasakan oleh seluruh atau sebagian besar bank. “Kalau banyak yang tidak bertumbuh [penyaluran kredit] ini bisa jadi karena segmennya berbeda. Misalnya ada satu bank fokus UMKM sehingga terus bertumbuh, ada yang fokus industri lain yang sedang tertekan pada tahun ini,” tuturnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), pekan lalu.

Soeko menuturkan idealnya pertumbuhan kredit dirasakan secara merata oleh seluruh bank. Pasalnya, ketika penyaluran kredit menurun, faktor tersebut bisa menjadi cerminan kondisi ekonomi yang sedang berjalan pelan.

Sektor utama yang mendorong penyaluran kredit di Jateng adalah perdagangan, selanjutnya industri, dan pertanian. Kredit perdagangan paling dominan karena diangkap paling likuid.

Selain itu, untuk peraihan dana pihak ketiga (DPK) per Oktober 2019, 22 bank mencatatkan pertumbuhan negatif. Adapun, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) cenderung terjaga dengan 19 bank menunjukkan peningkatan NPL.

Data yang menjadi sorotan adalah 11 bank yang mencatatkan kenaikan NPL di atas 5%. Oleh karena itu, BI Jateng mengimbau agar pihak perbankan semakin berhati-hati.

“Ini yang harus tetap berhati-hati. Dan harapannya pertumbuhan kredit bisa inklusi dirasakan semua bank,” imbuhnya.

Sementara itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan di Jateng per November 2019 meningkat 9,08% yoy menuju Rp377,7 triliun. Peningkatan itu melampaui rata-rata nasional 7,15% yoy.

Penyaluran kredit paling besar untuk modal kerja dengan kontribusi 53,97% dari total kredit atau senilai Rp172,96 triliun. Kredit modal kerja di Jateng itu meningkat 5,94% yoy.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.