DPRD Jateng: Rumah Sakit Tanpa Dinding Jangan Hanya Sebatas Diksi

DPRD Jateng meminta pihak eksekutif mengoptimalkan program Rumah Sakit Tanpa Dinding yang sudah dicanangkan dalam RPJMD Jateng 2018.

DPRD Jateng: Rumah Sakit Tanpa Dinding Jangan Hanya Sebatas Diksi Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid (kiri), dan Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo (kedua dari kanan), saat menghadiri acara Prime Topic di Hotel Noormans, Kota Semarang, Kamis (13/2/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) telah mencanangkan program Rumah Sakit Tanpa Dinding sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Kendati demikian, banyak yang melihat program itu hingga saat ini belum berjalan secara optimal.

Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid, menilai selama dua tahun berjalan program Rumah Sakit Tanpa Dinding belum menunjukkan indikator keberhasilan.

“Saya melihat ini baru sebatas semangat. Indikator keberhasilannya ya harus dibuktikan dengan pelayanan rumah sakit yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Rumah sakit harus membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat baik di dalam maupun di luar rumah sakit,” ujar Hamid saat menjadi pembicara pada acara Prime Topic di Hotel Noormans, Kota Semarang, Kamis (13/2/2020).

Hamid menilai program Rumah Sakit Tanpa Dinding sebenarnya sangat bagus. Program ini merupakan gagasan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, yang tertuang dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018. Program ini membuat pelayanan rumah sakit tidak hanya terbatas di lingkungan rumah sakit, namun juga harus turun ke masyarakat.

Ini 10 Rumah Sakit untuk Penderita Virus Corona di Jateng

Hamid menilai sejauh ini dari 7 rumah sakit milik Pemprov Jateng belum ada satu pun yang mengaplikasikan secara sempurna. Pelayanan secara langsung ke masyarakat baru sebatas dilakukan 882 puskesmas yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

“Masih banyak yang harus dibenahi seperti jumlah tenaga kesehatan maupun penyuluh kesehatan yang terbatas. Minimal rumah sakit itu harus punya satulah daerah binaan untuk mengaplikasikan program itu. Jadi Rumah Sakit Tanpa Dinding enggak hanya sebatas paradigma atau diksi,” tegas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Community Base

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah (Jateng), Yuliyanto Prabowo, menilai dengan adanya program Rumah Sakit Tanpa Dinding membuat perspektif pelayanan petugas rumah sakit menjadi lebih luas.

“Selama ini kan pelayanan rumah sakit hanya berbasis hospital Base. Tapi, dengan program ini menjadi community base. Petugas rumah sakit tidak hanya berdiam diri di rumah sakit. Mereka harus mulai menghilangkan sekat, mereka juga harus datang ke komunitas untuk mencegah sakit,” tutur Yuliyanto.

Yuliyanto mengatakan program Rumah Sakit Tanpa Dinding akan memangkas antrean pasien karena petugas bisa datang langsung ke masyarakat. Selain itu, budaya atau tingkat kesehatan masyarakat akan menjadi lebih baik karena adanya petugas yang turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan.

FPKB DPRD Jateng Gelar Sekolah Parlemen Lagi

“Selain itu juga akan terjadi transfer knowledge dari rumah sakit kepada layanan kesehatan yang di bawahnya, seperti puskesmas, balkesmas, maupun posyandu,” terang Yuliyanto.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Budiono, menilai Rumah Sakit Tanpa Dinding sebenarnya merupakan program yang sangat bagus. Hanya saja banyak kendala yang harus dibenahi lebih dulu agar program ini berjalan optimal.

“Butuh sinergi antara tenaga kesehatan dengan masyarakat. Kalau cuma pemerintah saja tidak bisa. Apalagi, sekarang kan tenaga kesehatan di rumah sakit terbatas,” ujar Budiono.

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.