Tutup Iklan

Produksi Garam Jateng 1.043 Ton, Anjloknya Harga Diantisipasi

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, produksi garam rakyat terus meningkat setiap tahunnya. Tahun ini saja, kala kemarau menerjang, total produksi garam Jateng mencapai 1,043 juta ton.

Produksi Garam Jateng 1.043 Ton, Anjloknya Harga Diantisipasi Petani memanen garam di pesisir Wedung, Demak, Jateng, Kamis (12/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Semarangpos.com, SEMARANG – Memiliki garis pantai cukup panjang membuat Provinsi Jawa Tengah mendapat berkah di bidang kelautan dan perikanan saat kemarau menggila. Bukan hanya hasil tangkapan ikan melimpah, namun sektor pertanian garam juga memberi keuntungan bagi provinsi ini.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, produksi garam rakyat terus meningkat setiap tahunnya. Tahun ini saja, kala kemarau menerjang, total produksi garam Jateng mencapai 1,043 juta ton.

“Jumlahnya meningkat signifikan dibanding tahun 2018 lalu. Di mana tahun lalu, produksi garam Jateng hanya sebanyak 751.463 ton,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Fendiawan, Rabu (20/11/2019).

Meningkatnya jumlah produksi garam tahun ini, lanjut dia, disebabkan karena beberapa faktor. Namun faktor utama diakuinya adalah musim kemarau yang lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Faktor cuaca itu membuat produksi garam melimpah. “Tahun ini kemaraunya cukup panjang, itu yang menjadikan produksi garam melonjak drastis,” tambahnya.

Fendiawan menerangkan beberapa daerah yang menjadi sentra petani garam terdapat di Kabupaten Rembang, Brebes, Cilacap, Demak, Batang, Kebumen, Purworejo, Jepara, dan Pati. Total terdapat 14.836 petani garam yang tersebar di Jawa Tengah.

“Petani garam terbanyak berada di Kabupaten Pati dengan total 8.178 orang, disusul Rembang dengan 4.009 orang, dan Demak 1.354 orang,” jelasnya.

Pemprov Jateng, lanjut dia, terus memfasilitasi dan membantu petani garam agar terus bisa berproduksi serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi mereka. Bantuan berupa sarana prasarana telah dilakukan di sejumlah kelompok petani garam yang ada di Jawa Tengah.

“Kami terus melakukan pembinaan dan juga fasilitasi agar para petani garam semakin produktif dan memiliki kualitas bagus,” terangnya.

Disinggung tentang anjloknya harga garam akhir-akhir ini, Fendiawan menerangkan bahwa Pemprov Jateng tidak tinggal diam atas kondisi tersebut. Beberapa upaya telah dilakukan untuk melindungi harga garam petani Jateng tetap stabil di pasaran.

Fendi menerangkan harga garam tahun ini memang anjlok pada kisaran Rp300/kg-400/kg. Padahal di tahun 2016 lalu, harga garam bisa mencapai Rp1.000/kg.

“Kami terus berupaya agar harga tetap stabil dengan membangun gudang garam di sentra-sentra penghasil garam, pembangunan tunnel dan juga geoisolator. Dengan adanya bantuan itu, maka stabilitas harga dapat dijamin,” tegasnya.

Apabila saat panen dan harga anjlok, maka garam dapat disimpan terlebih dahulu di gudang-gudang yang telah disediakan. Selain itu, pencarian industri yang mau menyerap produksi garam petani juga terus dilakukannya.

“Kami juga berupaya meningkatkan kualitas garam petani dengan memberikan bantuan geoisolator dan rumah tunnel. Pemberian bantuan itu agar garam Jateng memiliki kualitas bagus sehingga harganya tinggi di pasaran,” tegasnya.

Selain itu, langkah jangka panjang juga sudah diupayakan untuk melindungi petani garam merugi karena anjloknya harga. Diantaranya berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mencarikan pasar garam rakyat.

“Pemerintah pusat melalui Kemenkomaritim akan menetapkan harga pokok produksi garam industri tahun 2010. Juga, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menyusun masterplan kawasan ekonomi garam mandiri,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.

Komentar Ditutup.