Begini Cita Rasa Kue Keranjang Semarang Dipertahankan…

Kue keranjang disiapkan di Kampung Kentangan, Jagalan, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Begini Cita Rasa Kue Keranjang Semarang Dipertahankan… Seorang pegawai Ong Eng Hwat menunjukkan kue keranjang yang sudah siap disantap di Kampung Kentangan, Jagalan, Semarang Tengah, Senin (13/1/2020). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG – Perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru China segera tiba. Warga keturunan Tionghoa di Semarang mulai bersiap menyambut perayaan hari besar yang tahun ini jatuh pada Sabtu (25/1/2020).

Tak hanya mempersiapkan acara perayaan, sejumlah warga Tionghoa di Semarang pun mulai sibuk menyiapkan pernak-pernik yang untuk menyambut Tahun Baru 2571 Imlek, salah satunya adalah kue keranjang. Kue keranjang atau yang juga disebut nian gao memang acap kali ditemukan menjelang maupun saat perayaan Imlek.

Bentuknya yang bulat, dengan tekstur yang lengket dan rasa yang manis, membuat kue keranjang kerap dijadikan simbol sebagai hubungan kekerabatan warga Tionghoa yang harmonis. Di kawasan Pecinan ada satu pembuat kue keranjang yang cukup terkenal, yakni Ong Eng Hwat.

Setiap menjelang perayaan Imlek, rumah Ong Eng Hwat yang terletak di Kampung Kentangan Tengah RT 003/RW 005, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, selalu disibukkan pembuatan kue keranjang.

“Kita buat hanya untuk melayani pesanan. Ada yang pesan dari Bandung, Jogja, dan lain-lain. Tapi paling banyak dari Semarang,” ujar Eng Hwat saat dijumpai Semarangpos.com di rumahnya, Senin (13/1/2020).

• Cetakan yang terbuat dari bambu digunakan untuk membuat kue keranjang. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Eng Hwat membuat kue keranjang dibantu beberapa pegawai. Pembuatan kue keranjang pun tidak dilakukan setiap hari, hanya menjelang Imlek. Kue keranjang buatan Ong Eng Hwat dibanderol Rp60.000 per kg. Satu kg berisi dua hingga empat kue keranjang, tergantung pesanan.

“Biasanya, kue keranjang ini disantap dengan santan atau parutan kelapa. Tapi, ada juga yang memotong kecil-kecil, lalu digoreng dengan adonan telur,” jelasnya.

Eng Hwat mengaku membuat kue keranjang merupakan tradisi turun menurun. Ia merupakan generasi ketiga pembuat kue keranjang di Semarang.

Usaha pembuatan kue keranjang itu kali pertama dilakukan neneknya pada era 1960-an. Sejak saat itu, ia berusaha mempertahankan cita rasa kue keranjang dengan menerapkan pembuatan secara tradisional.

Hal itu dilihat dari cara pembuatan kue keranjang yang cukup rumit, meski pun terkesan sederhana. Tepung ketan yang menjadi bahan baku kue keranjang dihasilkan sendiri, bukan diperoleh dalam bentuk jadi seperti yang tersedia di pasaran.

Selain itu, cara memasak kue keranjang juga dilakukan dengan cara tradisional, yakni dibakar dalam tungku yang menggunakan kayu bakar. “Selain itu, kita juga pakai cetakan kuenya benar-benar dari keranjang bambu. Saat ini kan banyak yang buat kue keranjang dengan cetakan dari plastik atau kaleng. Menurut kami, itu akan mengurangi kekenyalan dan rasa,” imbuh Eng Hwat.

Eng Hwat mengatakan untuk kue keranjang dirinya bisa menghabiskan waktu satu hari. Satu olahan bisa menghasilkan kue keranjang seberat 90 kg. “Yang memakan waktu paling lama adalah memasaknya. Untuk memasak kue keranjang di tungku kita butuh waktu sekitar delapan jam,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.