Industri 4.0, Pertamina Genjot Layanan Digital

Pertamina, selaku BUMN yang berwenang dalam mengolah energi dan minyak bumi fokus mengembangkan platform digital untuk pelayanan kepada konsumen.

Industri 4.0, Pertamina Genjot Layanan Digital Manajer Media Communication Pertamina, Heppy Wulansari, memberikan paparannya pada acara “Nongkrong Bareng Pertamina” di Lakers Resto, BSB City, Semarang, Kamis (27/2/2020). (Semarangpos.com-Humas Pertamina MOR IV)

Semarangpos.com, SEMARANG – Semakin berkembangnya teknologi di era digitalisasi, mendorong Pertamina untuk berinovasi dalam pengembangan bisnisnya. Salah satu inovasi itu adalah pengembangan layanan di sektor digital, seperti digitalisasi SPBU, aplikasi My Pertamina, hingga pengelolaan sosial media seperti Instagram.

Manajer Media Communication Pertamina, Heppy Wulansari, menilai inovasi di bidang teknologi dan digitalisasi menjadi kekuatan Pertamina dalam menjalankan bisnis.

“Melalui platform media sosial kami bisa menjangkau stakeholder dan konsumen hingga ke pelosok. Bahkan, ke lokasi yang jauh dari titik SPBU. Dengan sosial media, kami juga dapat berinteraksi dengan mereka dan memberikan solusi akan ketersediaan energi di wilayahnya,” ujar Heppy saat acara “Nongkrong Bareng Pertamina” di Lakers Resto, BSB City, Semarang, Kamis (27/2/2020).

Heppy menilai sebuah perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi pastinya akan ditinggalkan stakeholder maupun konsumen.

“Sebagai BUMN, tentu kami memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan energi di Indonesia. Inovasi teknologi dan digitalisasi terus kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institue, Komaidi Notonegoro, mengatakan Pertamina memegang peran penting dalam keberlangsungan energi di Indonesia, mulai sektor hulu hingga hilir.

“Saat ini kondisi produksi dan konsumsi migas di Asia Pasifik berbanding cukup jauh. Produksi migas di Asia Pasifik mengambil porsi hanya 30%, sedang konsumsinya 60%,” ungkap Komaidi.

Hal tersebut juga terjadi di Indonesia. Komaidi menyebut produksi minyak di Indonesia hanya sekitar 800.000 barel per tahun, sedang konsumsinya mencapai 1,6 juta barel. “Sehingga, pemenuhan kebutuhan minyak di Indonesia saat ini adalah melalui impor”, ujarnya.

Kondisi itu membuat Pertamina memiliki tugas yang cukup berat dalam pemenuhan energi di Indonesia. Rumit dan panjangnya rantai birokrasi membuat Pertamina sulit dalam mengambil langkah strategis dalam kemandirian energi bangsa.

“Sebenarnya hal tersebut bisa diantisipasi jika seluruh pemangku kebijakan telah memahami permasalahan yang ada dan bersama mencari solusi,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.