Terima Pemudik, Desa di Jateng Harus Siapkan Tempat Isolasi

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta setiap desa menyediakan tempat isolasi yang diperuntukan bagi pemudik yang baru tiba.

Terima Pemudik, Desa di Jateng Harus Siapkan Tempat Isolasi Rumah isolasi yang disiapkan suatu desa di Jateng. (Semarangpos.com/Taufiq Sidiq Prakoso)

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, meminta seluruh kepala desa di Jateng menyiapkan tempat isolasi untuk menampung para pemudik. Nantinya, setiap perantau yang pulang kampung pun wajib diisolasi di tempat tersebut selama 14 hari.

Beberapa desa di Jateng pun sudah melaksanakan instruksi gubernur tersebut. Beberapa desa itu antara lain Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru dan Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, di Kabupaten Semarang.

Di Desa Ngrapah, warga memanfaatkan gedung olahraga sebagai tempat isolasi. Sementara di Desa Bejalen, tempat isolasi dilakukan di Balai Desa.

“Tadi malam saya komunikasi dengan Kepala Gugus Tugas Covid-19 dan diminta menyiapkan daerah terutama desa untuk membuat tempat khusus isolasi bagi yang baru pulang dari perantauan. Setelah itu, langsung saya perintahkan kepada seluruh kepala desa untuk menyediakan,” ujar Ganjar, Sabtu (4/3/2020),

Ganjar meminta seluruh kepala desa segera menyediakan tempat isolasi. Tidak perlu membangun gedung baru, kepala desa dapat mengoptimalkan gedung balai desa atau gedung pertemuan lain sebagai tempat isolasi itu.

Nantinya lanjut dia, setiap perantau yang pulang kampung harus didata dan diisolasi selama 14 hari di tempat khusus tersebut. Apabila menolak, maka aparat TNI/Polri siap memberikan tindakan tegas.

“Nanti kami bantu bagaimana cara mengelolanya. Kami juga sudah minta bantuan TNI/Polri untuk membantu melakukan penjagaan melalui Babinsa dan Babhinkamtibmas,” tegas Ganjar.

Selain kepada pemudik, Ganjar juga meminta seluruh kepala desa untuk mengamankan para lansia dan penyandang disabilitas di desanya masing-masing. Mereka yang termasuk kelompok rentan ini, harus diamankan terlebih dahulu dari dampak penyebaran Covid-19.

“Kalau perlu diisolasi dulu dan tidak boleh bertemu dengan keluarga yang baru pulang dari perantauan. Untuk kebutuhan mereka, desa bisa mencukupi menggunakan anggaran yang ada atau menggerakkan gotong royong masyarakat. Buat lumbung pangan dan gerakkan kembali jimpitan,” pungkasnya.

Gedung serbaguna

Sementara itu, Kepala Desa Ngrapah, Wargiyati mengatakan, dirinya memanfaatkan gedung serbaguna sebagai tempat isolasi. Gedung tersebut dipilih karena cukup besar dan dekat dengan akses kesehatan.

“Setelah tadi malam diperintah, langsung kami eksekusi pagi ini. Ini cukup besar, bisa menampung ratusan orang,” kata dia.

Sampai saat ini lanjut dia, sudah ada 30 warga perantau yang mudik di desanya. Namun, mereka belum ditampung di gedung tersebut dan hanya diwajibkan menjalani isolasi di rumah masing-masing.

“Setiap pemudik yang datang, langsung didatangi bidan dan Babinsa untuk pengecekan. Yang sehat harus isolasi di rumah 14 hari, yang sakit langsung dibawa ke rumah sakit. Nanti setelah gedung ini siap, maka seluruh perantau akan kami isolasi di gedung ini,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.