Yuk Intip Gereja Blenduk yang Ikut Jadi Saksi Perkembangan Semarang

GPIB Immanuel atau biasa disebut Gereja Blenduk adalah gereja untuk umat Kristen yang eksis sejak abad ke-18 dan menjadi saksi perkembangan Kota Semarang.

Yuk Intip Gereja Blenduk yang Ikut Jadi Saksi Perkembangan Semarang Gereja Blenduk, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Instagram—atmajayateddy)

Semarangpos.com, SEMARANG — GPIB Immanuel atau biasa disebut Gereja Blenduk adalah gereja untuk umat Kristen. Keberadaannya yang eksis sejak abad ke-18 membuat gereja tersebut turut menjadi saksi perkembangan Kota Semarang.

Gereja Blenduk berlokasi di Jl. Letjen Suprapto No. 32, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Lebih mudahnya, berada di kawasan Kota Lama, bersebelahan dengan Taman Srigunting.

Sebelum menjadi Jl. Letjen Suprapto, tempat Gereja Blenduk berdiri dengan megahnya itu bernama Heerenstraat. Saat ini, Gereja Blenduk sudah menjadi salah satu bangunan cagar budaya. Bentuk gereja Kristen tersebut tidak boleh diubah.

Kisah Melegenda di Balik Rawa Pening…

Sebenarnya, sebutan “Gereja Blenduk” berasal dari masyarakat sekitar. “Blenduk” merupakan atap gereja yang berbentuk kubah. Gereja Blenduk dibangun pada tahun 1753 dan menjadi salah satu gereja tertua di Indonesia.

Seperti yang dihimpun Semarangpos.com dari berbagai sumber, Senin (11/5/2020), Gereja Blenduk mengadopsi gaya arsitektur jenis Neo Klasik. Terlihat dari desain kubah besar dengan lapisan perunggu yang menambah kesan klasik dan megah.

Saat dibangun untuk yang pertama kali, gereja tersebut menggunakan arsitektur khas Jawa yaitu rumah panggung. Setelah itu, gereja mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1787.

Bakmi Jowo Pak Gareng, Sajian Kuliner Populer di Semarang

Renovasi masih terus berlanjut hingga tahun 1894. Kali ini, seorang arsitek dari Belanda bernama W. Westmas dan H.PA. De Wilde, membangun dua buah menara di samping pintu masuk. Sejak saat itu, gereja berdiri megah hingga saat ini.

Kubah Perunggu

Kubah besar dengan lapisan perunggu menjadi inti dari bangunan ini. Kubahnya berwarna merah kecokelatan kontras bila dipadukan dengan bangunan gereja yang dicat putih. Apalagi dengan dua menara yang menambah kesan khas dari gereja ini.

Gereja Blenduk juga dilengkapi dengan pilar bergaya Dorik Romawi dengan atap model pelana kuda. Aksesnya juga berupa pintu dengan model ganda dan memiliki lengkungan di bagian atas. Jangan lupakan jendela dengan kaca patri yang tak termakan zaman sejak pertama kali dibangun.

Umbul Sidomukti Bisa Jadi Tempat Bertualang Tak Terlupakan

Wisatawan boleh menikmati keindahan bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut jika tidak ada acara kebaktikan. Mulai pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB dan hanya merogoh kocek sejumlah Rp10.000.

Tidak hanya bagian luar, di dalam gereja, ornamen-ornamen tempo dulu juga masih digunakan. Namun terjadi beberapa perubahan seiring bertambahnya zaman. Seperti lampu yang dulunya memakai lilin sekarang menggunakan bohlam.

Yang menariknya lagi, di dalam gereja Kristen ini ada sebuah organ pipa atau orgel kuno yang dibangun tahun 1700-an. Sekedar informasi, orgel merupakan alat musik kuno yang menggunakan pipa besi untuk menghasilkan bunyi. Sayang sekali, alat musik kuno itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Namun tetap menambah kesan megah di dalam gereja.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.