Perjuangan Lelaki Ini Luar Biasa, Demi Pulang ke Solo Nekat Jalan Kaki dari Jakarta, Ini Kisahnya…  

Perjuangan lelaki asal Jebres, Solo, Jawa Tengah ini luar biasa. Demi bisa pulang kampung dia nekat berjalan kaki dari Jakarta hingga Solo.

Perjuangan Lelaki Ini Luar Biasa, Demi Pulang ke Solo Nekat Jalan Kaki dari Jakarta, Ini Kisahnya…    Maulana Arif Budi Satrio di Grha Wisata Niaga Solo, Senin (18/5/2020). (Istimewa)

Semarangpos.com, SOLO – Wow… Perjuangan lelaki asal Jebres, Solo, Jawa Tengah ini luar biasa. Demi bisa pulang kampung lelaki bernama Maulana Arif Budi Satrio, ini nekat berjalan kaki dari Jakarta menuju Solo. Kondisilah yang memaksa dia nekat setelah usahanya naik kendaraan menuju Solo gagal.

Sesampai di Solo, Jumat (15/5/2020), lelaki berusia 38 tahun itu pun tidak langsung pulang ke rumahnya. Rio, sapaan Maulana Arif Budi Satrio, tinggal sementara di Grha Wisata Niaga Solo untuk menjalani karantina selama 14 hari sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Perjuangan lelaki itu pulang kampung dimulai dari Jakarta, tepatnya dari Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Ia jalan kaki lantaran tak menemukan akses lain untuk pulang.

Hasil Rapid Test Pekerja Migran di Semarang, Satu Orang Dinyatakan Reaktif Covid-19

Beberapa upaya pulang dengan kendaraan telah dicoba Rio. Warga Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo, itu sebelumnya sempat menjajal pulang kampung mengendarai kendaraan pribadi, maupun menumpang bus, dan travel. Namun semua upayanya gagal.

“Saya memesan tiket bus, sudah bayar Rp500.000 tapi yang datang malah mobil minibus. Saya enggak mau, akhirnya tidak jadi berangkat. Kemudian meminjam mobil teman, nah pas sampai di Cikarang, saya diminta balik ke kota asal,” kisahnya kepada wartawan, Senin (18/5/2020).

Sopir bus pariwisata itu mulai berjalan kaki dari Jakarta pada Senin (11/5/2020). Berbekal dua tas, yakni tas punggung dan tas selempang, ia bersandal jepit. Sepatunya dibungkus tas keresek.

Risiko Tinggi Penyebaran Covid-19, Pasar Tradisional di Solo Disasar Rapid Test

Warga Solo itu juga hanya mengenakan celana pendek, kaus, dan penutup wajah saat perjalanan pulang kampung itu. Dalam sehari, Rio berjalan kaki selama 12-14 jam atau sekitar 100 kilometer.

Langkahnya dimulai selepas Subuh hingga menjelang dini hari. “Saking lamanya berjalan di bawah terik matahari, kulit saya sampai terbakar. Selama perjalanan, saya istirahat di SPBU dan warung-warung tempat pemberhentian truk,” kata dia.

Dicegat Kawan

Setelah empat hari berjalan, tepatnya pada Kamis (14/5/2020), Rio tiba di Kecamatan Gringsing, Batang. Di sana dia dicegat rekannya sesama sopir yang tergabung dalam wadah Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo).

Banyak Warga Klaten Tolak BST, Alasanya Ada yang Lebih Membutuhkan

Komunitas tersebut akhirnya menjemput dan mengantarkan Rio ke Semarang. Di sana, Rio diantar ke Sekretariat Peparindo Jawa Tengah. Sejak saat itu, warga Solo itu tak dibolehkan lagi oleh temannya untuk melanjutkan perjalanan pulang kampung dengan jalan kaki.

Kemudian Rio diantarkan sampai ke tujuan akhir, yakni Solo. Perjuangan lelaki itu akhirnya sampai di Kota Bengawan, pada Jumat (15/5/2020). Rio tidak langsung pulang ke rumah, namun menjalani karantina di Grha Wisata Niaga.

“Awalnya sempat takut juga karena embel-embel karantina. Tapi ternyata malah di sini nyaman dan penuh kekeluargaan. Kami di sini benar-benar dihargai, makan enak, dan ada hiburan,” ungkap Rio.

Dua Pedagang Positif Corona, 217 Penghuni Pasar Juwangi Boyolali Jalani Rapid Test

Warga Solo itu kemudian mengisahkan alasannya pulang kampung. Dia kehilangan mata pencaharian. Perusahaan travel tempatnya bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuatnya tak punya pendapatan.

Bus Pariwisata

Pandemi Covid-19 menghantam sektor tersebut sejak Maret. Pegawai dan kru bisnis persewaan bus pariwisata itu dirumahkan. Saat di-PHK, ia belum mendapatkan gaji, apalagi tunjangan hari raya (THR).

“Saya pulang karena uang di genggaman tinggal Rp300.000-an. Kontrakan saya sudah saya serahkan kepada teman saya yang diusir dari kontrakannya. Dia lebih kasihan karena punya anak kecil. Saya minta dia tinggal di sana sampai kontrakan saya selesai akhir Juni,” ucapnya.

Gaet Anak Muda, Dory Harsa Bikin Campursari Konsep Baru, Seperti Ini

Rio mengaku saat di Semarang, ia sempat ingin berjumpa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ia ingin menyampaikan kesulitan yang dihadapi pekerja di bidang travel. Sayangnya, ia gagal bertemu sebelum pulang ke Solo.

Get the amazing news right in your inbox

Berita Terpopuler

0 Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.